Menemukan Nilai dalam Contoh Cerita Pendek

Menemukan Nilai dalam Contoh Cerita Pendek

Contoh Cerita Pendek

Contoh Cerita Pendek

Contoh Cerita Pendek – Tentu kalian pernah membaca cerpen. Siapa pengarang cerpen, yang karya-karyanya kalian sukai? Kalian barangkali mengenal namanama, seperti Ahmad Tohari, Nh. Dini, Seno Gumira Ajidarma, dan Jenar Mahesa Ayu. Mereka adalah pengarang-pengarang cerpen yang namanya sudah terkenal. Apakah kalian ingin terkenal seperti mereka? Kalian dapat menjadi cerpenis terkenal jika rajin dan tekun berlatih. Dengan terus berlatih menulis cerpen, kalian akan makin terampil sehingga harapan kalian untuk bisa terkenal seperti mereka akan dapat terwujud. Di bawah ini, disajikan sebuah cerpen karya temanmu, Rina Lizza R. Silakan kalian baca cerpen itu di dalam hati! Sambil membaca, buatlah catatan di buku tulis kalian, tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sekarang, silakan kalian mulai membaca cerpen ini!

Contoh Cerita Pendek – Pak Tua Rina Lizza Tubuhku menciut diselimuti udara yang dingin pagi itu. Kugosok-gosokkan jemariku dan kurapatkan dekapan mantel bututku. Tadi malam hujan cukup deras. Pantas, udara pagi ini jadi begitu dingin. Kulihat beberapa orang berjalan tergesa-gesa, berusaha mengusir hawa dingin di tubuhnya. Seorang ibu melilitkan syal hangat berwarna merah jambu di leher anaknya. Terlintas perasaan iri di benakku: Aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. ”Hei, jangan melamun! Pikirkan akan ke mana kita hari ini.” Sebuah suara mengusik lamunanku. Dengan enggan kuangkat badanku dan berjalan terseok-seok mengikuti langkah pria yang tadi membentakku. Kata orang, dia bekas konglomerat, tak ada yang tahu nama aslinya. Hanya saja, orang-orang memanggilnya dengan sebutan Pak Tua. ”Pak, memangnya kita mau ke mana sekarang?” suaraku terdengar parau, seperti habis dicekik, aku nyaris tak mengenali suaraku sendiri. Kutunggu jawaban Pak Tua, tapi yang kudengar hanya helaan napasnya, ”Aku tak tahu,” ujarnya enggan. Kutatap punggungnya dari belakang, dekat, tetapi terasa amat jauh. Aku selalu merasa ia adalah orang tua yang kesepian. Di balik asap rokoknya kutemukan tatapan kosong dan raut penuh kesedihan. Walau begitu, aku tak pernah berani bertanya masa lalunya sebab aku pun punya masa lalu yang tak bisa kujelaskan. Akhir-akhir ini, kami selalu bangun lebih awal, kata Pak Tua, sekarang ini jika tidak rajin kita akan tersikut pendatang baru.

Contoh Cerita Pendek – Selain itu, kami sengaja berlatih beberapa bait puisi dan lagu baru yang sedang in. Untuk anak tujuh tahun sepertiku, bukan hal sulit untuk menghafal beberapa lagu sekaligus. Lagi pula selagi aku masih balita, ibu selalu mengajariku menghafal ayat-ayat kitab suci sehingga aku telah terbiasa menghafal. ”Hei, sudah berapa kali aku bilang? Jangan melamun! Lihat, antrean sudah panjang,” suaranya lebih mirip ancaman di telingaku. Karena tiga kali teguran berarti

jatah makan hari ini berkurang. Deretan mobil-mobil seperti tak ada ujungnya, kami menghampiri satu per satu. Jika beruntung, kami mendapat lebih dari sepuluh ribu rupiah seharinya. Begitulah rutinitas kami setiap hari, bangun, bekerja lalu saat malam menjemput, kami kembali ke tempat Pak Tua. Sungguh harihari yang berat. Peluh di tubuhku adalah lapisan kulitku yang kedua. ”Kau tahu? Aku tak suka melihatmu melamun begitu. Wajahmu saat melamun, selalu mengingatkan aku akan anakku, aku sangat merindukannya,” ujarnya sendu, matanya terus menerawang entah ke mana, sedangkan tangannya tak pernah lepas dari rokok kreteknya. ”Sudahlah, cepat makan, kalau sudah dingin, lauknya tak enak.” ”Bapak juga jangan melamun karena wajah Bapak saat melamun mirip wajah ayahku.” Ah, apa yang aku katakan? Sekilas kulihat Pak Tua terkejut mendengar ucapanku barusan. Padahal aku hanya bermaksud menghiburnya, tapi sepertinya ia tak suka mendengarnya. ”Nama anakku sama dengan namamu, Henry. Ia juga seusia denganmu. Bedanya, sekarang ini mungkin ia sedang makan enak di rumah orang kaya. Ia anak yang baik dan pintar, tapi sayang ibunya gila.” ”Maksud Bapak, ibunya kurang waras? Dia istri Bapak, lantas kenapa sekarang Bapak di sini, tidak bersama anak dan istri Bapak?” ”Kau masih kecil, tak akan mengerti. Di dunia ini seringkali uang menjadikan seseorang gelap mata, lupa segalanya. Perempuan itu gila, bukan otaknya yang terganggu, tapi nuraninya. Ia gila harta. Bapak di sini karena Bapak bukan hamba uang, mungkin pekerjaan Bapak sebagai seorang seniman telah membuat Bapak kehilangan anak dan istri Bapak. Sudahlah hari sudah larut, besok kita harus bekerja lagi.” Ia mengakhiri ceritanya dengan desahan panjang seperti biasa, namun kali ini desahannya terasa lebih pilu. Kata-katanya tadi sedikit pun tidak aku pahami. Aku sendiri merupakan anak terbuang. Ibu tak menginginkan aku dan membuangku saat masih balita ke panti asuhan. Aku tak suka tempat itu karena itulah aku ada di sini sekarang. Aku terus berpikir tentang kata-kata Pak Tua yang tak aku pahami, hingga tak terasa aku tertidur dan saat kubuka mataku, matahari sudah tinggi di ujung cakrawala. Aneh, hari ini tak ada suara Pak Tua yang membangunkanku, mungkin ia kelelahan semalam. Kubuka mataku perlahan, berusaha menyambut pagi dengan semangat yang baru. Tapi, apa yang kutemukan justru membuat semangatku rontok. Orang banyak berkerumun di sampingku, suara mereka berisik sekali, ada apa ini? ”Adik kenal dengan Bapak ini?” Petugas polisi berseragam lengkap menanyaiku dengan wajah serius. ”Ya, memangnya ada apa dengannya? Mengapa orang-orang mengerumuninya?

Contoh Cerita Pendek – ”Ia ditemukan meninggal semalam. Mungkin adik tahu penyebabnya?” Apa? Tak mungkin. Ia masih bercakap-cakap denganku tadi malam. Polisi tadi pasti sedang bergurau. Aku menerobos kerumunan orang yang mengelilingi Pak Tua. Apa yang aku lihat membuatku tak ingin mempercayai mata kepalaku sendiri. Ia tergeletak, ia telah tiada. Aku menangis sejadi-jadinya. Ia adalah orang yang selama ini telah menggantikan posisi ayah di hatiku. Di sampingnya, berlutut seorang wanita muda yang cantik. Sepertinya ia sudah menangis sedari tadi. Ingatanku mengatakan bahwa aku mengenalinya. ”Ibu?” kataku perlahan. ”Nak, itukah kau? Ke mana saja kau selama ini? Mengapa kau lari dari panti asuhan? Ibu mencarimu, Nak!” ”Bohong! Untuk apa ibu ada di sini? Untuk mengajakku kembali ke panti asuhan lagi?” ”Ini ayahmu, Nak. Yang terbaring di sini adalah ayah kandungmu. Ibu bersalah, ibu khilaf. Tapi, semua sepertinya sudah terlambat.” Aku tak mengerti ucapan ibu, tapi hanya satu yang aku pahami, Pak Tua ternyata adalah ayahku. Mengapa ia harus bersusah payah mencari dan merindukan anaknya? Padahal Henry yang selama ini ia cari selalu berada di sampingnya. Ayah, ini anakmu, bangunlah, Ayah! Jangan mati, ini anakmu! Oh, Tuhan berikan kami kesempatan sekali lagi. Ayah, aku selama ini pun telah menganggap engkau sebagai ayahku. Sumber: Pikiran Rakyat, 17 Juli 2005

Bagaimana pendapatmu tentang cerita ”Pak Tua” tersebut? Apakah kalian dapat menceritakan kembali cerpen tersebut? Hal yang perlu kalian lakukan agar kalian dapat menceritakan kembali isi cerpen tersebut adalah sebagai berikut. 1. Tulislah pokok-pokok peristiwa pada cerpen tersebut! 2. Tuliskan siapa yang mengalami peristiwa-peristiwa tersebut! 3. Ceritakan peristiwa-peristiwa tersebut secara urut! 4. Jika diperlukan, kalian dapat menambahkan petikan dialog tokoh-tokohnya.

Contoh Cerita Pendek

1. Ceritakan kembali isi cerpen ”Pak Tua” dengan menggunakan kalimatmu sendiri! 2. Dapatkah kalian menyebutkan tokoh-tokoh pada cerpen itu? a. Siapakah yang berkedudukan sebagai tokoh protagonis? b. Siapakah yang berkedudukan sebagai tokoh antagonis? c. Adakah tokoh yang berkedudukan sebagai tokoh tritagonis? Jika ada, sebutkan! 3. Di manakah peristiwa-peristiwa pada cerpen itu terjadi? Kapan peristiwa-peristiwa itu terjadi? 4. Temukan keterkaitan unsur intrinsik dalam cerpen tersebut terhadap kehidupan sehari-hari. Tunjukkan dengan teks yang mendukung dan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikan pendapatmu tentang masalah ini! 1. Diskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen tersebut! 2. Di dalam cerpen tersebut dikisahkan tentang seorang anak yang ”dititipkan” oleh ibunya di panti asuhan. Bagaimana pendapatmu tentang peristiwa tersebut? Mungkinkah hal seperti itu terjadi saat ini? 3. Jika kalian mengalami kejadian yang dialami tokoh ”Aku”, apa yang akan kamu lakukan? 1. Bersama teman sebangkumu, silakan kamu tirukan adegan dalam cerpen itu! a. Anak laki-laki berjalan mengikuti laki-laki tua dengan langkah pelan. b. Seorang anak mengamen di jalan-jalan. c. Seorang wanita menangis melihat jenazah suaminya. 2. Ucapkan petikan dialog di bawah ini dengan suara yang jelas! a. ”Hei, jangan melamun!” b. ”Pak, memangnya kita mau ke mana sekarang?” c. ”Hei, sudah berapa kali aku bilang? Jangan melamun! Lihat, antrean sudah panjang!” d. ”Kau tahu? Aku tak suka melihatmu melamun begitu. Wajahmu saat melamun selalu mengingatkan aku akan anakku, aku sangat merindukannya.” e. ”Bapak juga jangan melamun karena wajah Bapak saat melamun mirip wajah ayahku.” f. ”Maksud Bapak, ibunya kurang waras?”

Contoh Cerita Pendek

 

Menemukan Nilai dalam Contoh Cerita Pendek | medsis | 4.5