Pelajaran Tentang Citra Penginderaan Jauh Indraja

Pelajaran Tentang Citra Penginderaan Jauh Indraja

Citra Penginderaan Jauh

Citra Penginderaan Jauh

Citra Penginderaan Jauh

1. Pengertian Penginderaan Jauh

Citra Penginderaan Jauh  – Kemajuan teknologi telah banyak membantu manusia dalam upaya menyelidiki keadaan planet bumi dengan segala isinya.

Citra Penginderaan Jauh  – Setelah teknologi penerbangan dan satelit berkembang, juga bersamaan dengan perkembangan teknologi foto dan scanning, manusia dapat melihat gambaran permukaan bumi dalam jangkauan yang lebih luas.

Citra Penginderaan Jauh  – Semua teknologi yang terkait dengan pengamatan (penginderaan) permukaan bumi tersebut dikenal dengan teknologi penginderaan jauh. Penginderaan adalah upaya untuk mengetahui suatu objek melalui sensor.

Dalam penginderaan objek yang ada di bumi, terutama meraba dan merasakan sesuatu, harus ada kontak secara langsung antara sensor dengan objeknya.

Citra Penginderaan Jauh  – Akan tetapi, dalam memperoleh beberapa informasi objek yang ada di bumi dengan penglihatan dan pendengaran, kita tidak memerlukan kontak langsung antara indra kita sebagai sensor dengan gejala di permukaan bumi sebagai objeknya. Dengan kata lain, sebenarnya dengan penglihatan tersebut kita telah melakukan penginderaan jauh. Dalam penginderaan jauh, sensor- sensor tersebut ( sensor buatan seperti kamera) tidak melakukan kontak langsung dengan objeknya.

Citra Penginderaan Jauh  – Akan tetapi, informasi mengenai objek atau gejala yang ada diterima oleh sensor melalui suatu media atau perantara. Media yang membawa informasi ke sensor biasanya adalah radiasi elektromagnetik. Secara umum, penginderaan jauh adalah ilmu, seni dan teknik untuk memperoleh data dan informasi objek atau gejala yang ada di muka bumi tanpa melakukan kontak langsung dengan objek tersebut.

Pengindaraan jauh Menurut Para Ahli

Adapun penginderaan jauh oleh Gardner dan Jefferis (1973) diartikan sebagai suatu cara pengumpulan keterangan mengenai permukaan bumi dari jarak jauh. Mereka juga menyatakan bahwa penginderaan jauh adalah penginderaan atau pengamatan radiasi elektromagnetik dari suatu objek pada lokasi yang jauh.

Sedangkan menurut Welson dan Bufon, penginderaan jauh didefinisikan sebagai suatu ilmu, seni, dan teknik untuk memperoleh informasi tentang objek, area, dan gejala dengan menggunakan alat dan tanpa kontak langsung dengan yang diamatinya.

Out put yang dihasilkan dari penginderaan jauh adalah citra penginderaan jauh (remote sensing image) . Penginderaan jauh sering disingkat dengan istilah PJ, terkadang juga dikenal dengan istilah indraja atau teledeteksi. Penginderaan jauh dalam bahasa Inggris disebut remote sensing, dalam bahasa Jerman disebut fernukundung, sedangkan dalam bahasa Prancis disebut teledection. Alat yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi dari teknologi penginderaan jauh adalah sensor.

Sensor umumnya dipasang pada wahana (platform) mulai dari pesawat terbang, balon udara, pesawat ulang alik, atau satelit. Oleh karena sensor terdapat pada wahana yang jauh dari objek yang diamati, disinilah awal munculnya istilah penginderaan jauh.

2. Sejarah Penginderaan Jauh

Pada tahun 1783, Montgolfier bersaudara dari Prancis berhasil membuat balon yang diisi dengan udara panas dan dapat terbang mencapai ketinggian 2.000 meter dan jarak terbang 4 km.

Balon yang menerbangkan manusia dinaikan di atas Paris oleh De Roziers, dan di atas Baltimore, Amerika Serikat dinaiki oleh Peter Cannes.

Pada tahun 1639 pemotretan pertama dari balon dilakukan oleh Daguerre dan Niepce di Prancis. Pada tahun 1856, Nadar merencanakan pembuatan peta topografi dengan foto udara dari balon di atas Paris. Pada foto itu, rumah-rumah dapat terlihat jelas.

Pada tahun 1871, Sullivan bersama Letnan G.M. Wheller meneliti daerah barat daya Amerika Serikat untuk geologi dan pertambangan. Pada tahun 1898, Albert Heim seorang ahli geologi bersamasama dengan Edward Schweizer dan seorang ahli meteorologi bernama Maurer berhasil terbang dengan memakai balon menyelidiki geologi pegunungan Alpen.

Pemotretan pertama dari pesawat udara dilakukan oleh Wilbur Wright di atas Centrocelly, Italia pada tahun 1909. Adapun pada tahun 1913, Kapten Tardive membawa kertas kerja tentang kemungkinan penggunaan foto udara yang dibuat dari pesawat terbang untuk pemetaan. Pada tahun 1920, foto udara mulai digunakan oleh ahli geologi di bidang perminyakan.

Pada tahun ini pula, dibentuk perusahaan “Aerial Survey” di Amerika Serikat dan Kanada yang menangani pemotretan dari udara beserta pemetaannya. Dan pada tahun ini juga terbit buku geologi udara pertama yang berjudul “The Face of the Earth, as seen from the Air” yang ditulis Willis T. Lee. Pada tahun 1922, Marconi menemukan potensi RADAR untuk mendeteksi objek. Pada tahun 1930, E.L. Krincv dari Rusia melakukan pemotretan pada permukaan batuan dan vegetasi.

Pada tahun ini pula foto udara mulai banyak dipakai oleh ahli-ahli ilmu kebumian (Earth Sciences) dan dalam bidang pertanian. Sementara itu, pada tahun ini pula lembaga-lembaga pemerintah Amerika Serikat mulai menggunakan foto udara secara besar-besaran dalam bidang pertanian, kehutanan, geologi, dan perencanaan.

Sedangkan Jerman mulai mengembangkan penginderaan jauh dengan spektrum infra merah termal untuk deteksi pesawat pembom dengan cara yang disebut “Kiel System” yang diterbangkan dengan pesawat tempur pada malam hari. Sistem ini sebenarnya dapat digunakan untuk kajian industri, astronomi, kesehatan, geologi, dan kehutanan. Pada tahun 1934, terbit majalah ilmiah yang mengkhususkan dalam fotogrametri dan interpretasi foto udara, yaitu “Photogrametric Engineering”. Pada tahun 1940, A.L. Simon memperkenalkan potret udara dengan lebih luas di kalangan ahli geologi. Perusahaan Timah Bangka memperluas eksplorasi dan perusahaan minyak bumi serta lembaga pemerintah mempergunakan potret udara dalam melaksanakan program-programnya.

Pada tahun 1965, G.T. 4 GEMINI (berawak) membuat 39 foto udara yang bertampalan daerah Amerika Serikat barat daya dan Meksiko Utara, serta 60 foto daerah Amerika Utara, Afrika, dan Asia yang ternyata sangat berguna untuk kajian tektonik, vulkanologi, dan geomorfologi. Pada tahun 1968, G.T. 5 dan G.T. 7 GEMINI menghasilkan foto yang baik untuk kajian geografi dan oseanografi. Pada tahun 1972, ERTS –1 (Earth Resources Technology Sattelite-1) yang kemudian disebut LANDSAT-1 (Land Satelite- 1) diluncurkan. Kemudian LANDSAT-2 pada tahun 1975, dan LANDSAT-3 yang diluncurkan pada tahun 1978. Dan sampai saat ini, telah banyak satelit yang diluncur dengan berbagai keperluan termasuk dalam hal penginderaan jauh.

 

Pelajaran Tentang Citra Penginderaan Jauh Indraja | medsis | 4.5