Ciri Kalimat Efektif Menggunakan Kalimat yang Baik, Tepat, dan Santun

Ciri Kalimat Efektif Menggunakan Kalimat yang Baik, Tepat, dan Santun

Ciri Kalimat Efektif

Ciri Kalimat Efektif

Ciri Kalimat Efektif

1. Mengidentifikasi kalimat yang komunikatif, tetapi tidak cermat Dalam kegiatan berbahasa, kita sering menemukan adanya salah pengertian atau salah tafsir. Hal itu terjadi akibat adanya kalimat yang tidak komunikatif atau kalimat rancu. Agar tidak terjadi hal demikian, kita sebagai penutur atau penulis harus mengemasnya dengan menggunakan kalimat efektif atau kalimat yang komunikatif.

Ciri Kalimat Efektif

Berikut ini merupakan ciri-ciri kalimat efektif.

a. Mengikuti kaidah-kaidah bahasa Kaidah-kaidah bahasa adalah tata aturan penggunaan bahasa yang mengacu pada pedoman Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, termasuk pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Perhatikanlah kalimat-kalimat berikut.

Ciri Kalimat Efektif

1) Tidak hanya perpustakaan sekolah, ketiga siswa ini punya pengalaman dengan perpustakaan lain. 2) Ayo, kita jalan agar cepat sampai di tujuan. 3) Sebagai orang asing, ia cukup pandai bicara bahasa Indonesia. Kata-kata yang bercetak miring dalam ketiga kalimat termasuk kata tutur. Kata tutur ialah kata-kata yang hanya dipakai dalam pergaulan sehari-hari, terutama dalam percakapan. Penggunaan kata tutur dalam kalimat efektif hendaknya dihindarkan. Perhatikan pula kalimat-kalimat berikut. 1) Tidak hanya perpustakaan sekolah, ketiga murid kelas tiga ini mempunyai pengalaman dengan perpustakaan lain. 2) Ayo, kita berjalan agar cepat sampai di tujuan. 3) Sebagai orang asing, ia cukup pandai dalam berbicara bahasa Indonesia.

Ciri Kalimat Efektif

b. Ketepatan memilih kata (diksi) Ketepatan dalam memilih kata, artinya kita harus menggunakan kata sesuai dengan proporsi kalimat yang tepat. Ketepatannya dapat dilakukan dengan cara penghematan penggunaan kata dan penggunaan sinonim yang dapat saling menggantikan. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindari pengulangan kata yang sama. Perhatikan contoh kalimat berikut. 1) Di Jawa Timur masih banyak desa-desa miskin. 2) Sejarah daripada perjuangan dan pertumbuhan bangsa ikut memberi dasar dan arah daripada politik kita yang bebas dan aktif.

Ciri Kalimat Efektif

Kata-kata bercetak miring pada kedua kalimat tersebut menunjukkan penggunaan bahasa yang tidak hemat. Bandingkanlah kedua kalimat tersebut dengan kalimat berikut. 1) Di Jawa Timur masih banyak desa yang miskin. 2) Sejarah perjuangan dan pertumbuhan bangsa ikut memberi dasar dan arah dari politik kita yang bebas dan aktif. Kemudian, perhatikan pula kalimat-kalimat berikut. 1) Air sungai itu bersih. 2) Air sungai itu bening. 3) Air sungai itu jernih. Kalimat-kalimat tersebut mengandung pilihan kata yang tepat dan mengandung sinonim yang dapat saling menggantikan. Walaupun demikian, kalimat itu menjadi kurang tepat jika kata bersih, bening, atau jernih diganti dengan kata suci, sekalipun kata suci merupakan sinonim dari kata-kata tersebut.

c. Memiliki penalaran logis Kalimat efektif harus memiliki penalaran yang logis, yaitu kalimat yang masuk akal dan dapat dipahami dengan mudah, cepat, dan tepat serta tidak menimbulkan salah tafsir atau ambigu. Perhatikan contoh kalimat berikut. 1) Waktu dan tempat kami persilakan. Kalimat tersebut tidak logis. Siapa yang dipersilakan? Sementara waktu dan tempat tidak bisa dipersilakan. 2) Karena akan hujan saya berlarian pulang Kata berlarian dinyatakan bahwa tindakan itu dilakukan oleh banyak pelaku. Kalimat tersebut seharusnya meng gunakan kata berlari. Bandingkan kedua kalimat tersebut dengan kalimat berikut ini. 1) Kepada Bapak kepala sekolah, kami persilakan. 2) Karena akan hujan, saya berlari pulang.

d. Kesatuan gagasan Kalimat efektif harus memperlihatkan kesatuan gagasan. Unsur-unsur dalam kalimat itu saling mendukung sehingga membentuk kesatuan ide yang padu. Kesatuan gagasan suatu kalimat bisa terganggu karena kedudukan subjek atau predikatnya, penggunaan kata depan yang tidak jelas, penempatan fungsi keterangan yang salah letak, dan kalimatnya yang terlalu panjang atau gagasannya yang bertumpuk-tumpuk. Perhatikan contoh kalimat berikut. Tahun ini spp mahasiswa baru dinaikkan. Menurut Anda, spp siapakah yang dinaikkan, seluruh mahasiswanya atau mahasiswa baru.

Bandingkan dengan kalimat berikut. Spp mahasiswa tahun ini baru saja dinaikkan.

e. Kepaduan Kepaduan adalah hubungan timbal balik antara unsurunsur pembentukan kalimat. Kepaduan suatu kalimat akan terganggu jika penggunaan kata ganti yang salah, kata depan yang tidak tepat, dan kata penghubung yang tidak jelas. Perhatikan contoh kalimat berikut. 1) Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih. 2) Bandingkan dengan kalimat berikut. 3) Atas perhatian saudara, saya mengucapkan terima kasih.

2. Menyampaikan informasi dengan menggunakan kalimat yang komunikatif, cermat, dan santun

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam mengemukakan gagasan, baik lisan maupun tulisan yaitu menggunakan kalimat yang santun. Kalimat yang santun adalah kalimat yang tidak menggunakan kata-kata pada satu bidang keilmuan, kata tutur, kata yang mubazir, dan tidak menggunakan kata-kata tidak baku. Selain itu, kalimat santun dapat dibantu dengan gerakangerakan tubuh. Ketidakefektifan komunikasi juga terjadi karena kalimat yang disampaikan tidak efektif. Kalimat yang tidak efektif disebabkan oleh beberapa faktor berikut. 1. Penggunaan kata sambung yang tidak tepat (kontaminasi). tidak efektif : Meskipun hari hujan, tetapi ia berangkat juga. efektif : Hari hujan, tetapi ia berangkat juga. 2. Penggunaan kata sambung yang bertumpuk (pleonasme). tidak efektif : Membaca adalah merupakan kunci ilmu pengetahuan efektif : Membaca merupakan kunci ilmu pengetahuan. 3. Penggunaan kata ganti yang tidak tepat. tidak efektif : Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih. efektif : Atas perhatian saudara, saya mengucapkan terima kasih. 4. Penggunaan kata yang tidak perlu (tidak logis). tidak efektif : Sepanjang pengetahuan saya, orang itu jujur. efektif : Setahu saya, orang itu jujur. 5. Pemakaian akronim tidak dijelaskan kepanjangannya (jargon). tidak efektif : Bapak saya ditunjuk sebagai sekpri. efektif : Bapak saya ditunjuk sebagai sekretaris pribadi. 6. Pemakaian kata tidak baku. tidak efektif : Bokap saya pergi ke Bandung. efektif : Bapak saya pergi ke Bandung.

Menggunakan Kalimat Tanya secara Tertulis Sesuai dengan Situasi

1. Menyampaikan pertanyaan yang relevan dengan topik pembicaraan Guru Anda sedang menjelaskan materi pelajaran di depan kelas. Lalu, Anda tidak memahami penjelasan Guru Anda itu. Apakah yang akan Anda lakukan? Tentu Anda akan bertanya kepada guru. Pertanyaan yang akan Anda ajukan biasanya akan menggunakan kata tanya bagaimana, apa, siapa, di mana, mengapa, dan kapan.

2. Menyampaikan pertanyaan yang memerlukan jawaban ya atau tidak

Pada umumnya kalimat tanya memerlukan jawaban. Namun, ada pada kalimat tanya yang tidak memerlukan atau tidak menghendaki jawaban. Pertanyaan seperti itu disebut pertanyaan retoris. Per tanyaan retoris umumnya dipergunakan dalam pidato dan per cakapan yang pendengarnya sudah mengetahui jawabannya. Kalimat tanya dapat diungkapkan dalam wujud lisan atau tulisan. Kalimat tanya menurut isinya, dapat dibedakan menjadi sebagai berikut. a. Pertanyaan yang menanyakan bahwa penanya benar- benar belum tahu tentang sesuatu yang ditanyakan. Contoh: 1) Siapakah orang tua itu? 2) Di mana Bapak tinggal? b. Pertanyaan yang diajukan bukan karena penanya tidak tahu, melainkan ingin mengetahui pengetahuan orang lain, sebagai penegas, dan sebagai kebiasaan. Contoh: 1) Apakah yang saya jelaskan tadi? 2) Apa yang saya makan? 3) Mencuri itu hukumnya dosa, bukan? (penegas) 4) Mau ikut atau tidak? (penegas) 5) Bagaimana keadaan kalian? (kebiasaan) 6) Bagaimana sehat? (kebiasaan) c. Pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban setuju atau tidak setuju. Pertanyaan ini biasanya untuk keperluan penelitian (ilmiah) berupa angket dan biasanya berbentuk kalimat tanya tulis. Contoh: 1) Undang-Undang Dasar 1945 tidak perlu diamandemen (ada perubahan). a) setuju b) tidak setuju 2) Pemilihan Presiden sebaiknya dipilih oleh rakyat. a) setuju b) tidak setuju d. Pertanyaan berupa isian atau blangko Pertanyaan jenis ini biasa digunakan untuk mendapatkan data dan untuk kepentingan tertentu. Pertanyaan-pertanyaan untuk keperluan hal tersebut biasanya dalam bentuk formulir atau daftar isian untuk diisi oleh seseorang yang berkepen ti ngan terhadap urusan itu. e. Pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak. Kalimat pertanyaan semacam ini adalah kalimat tanya yang tidak memper gunakan kata tanya. Contoh: 1) Kalian sekolah di sini? 2) Ini uang kalian? 3) Kalian mau buku ini? Pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak, juga biasanya dipergunakan untuk kepentingan penelitian dalam mengumpulkan data tertentu. Kalimat tanya ini biasanya dalam wujud tertulis. Pertanyaan dan jawabannya sudah tertulis. Kita hanya tinggal memberi tanda pada jawaban ya atau tidak. Contoh: Kalian melakukan kegiatan membaca setiap hari? a. ya b. tidak

3. Menyampaikan pertanyaan secara tersamar Pertanyaan tidak hanya diperuntukkan untuk meminta jawab an. Pertanyaan dapat juga digunakan untuk memohon (permohonan), meminta (permintaan), menyuruh, mengajak, merayu, menyindir, dan meyakinkan. Pertanyaan-pertanyaan dengan tujuan tersebut, biasanya cara mengungkapkannya secara tersamar. Kalimat tanya samar pada umumnya memakai partikel -lah atau -kah. Berikut ini beberapa contoh kalimat tanya, tetapi bukan untuk bertanya. a. Untuk tujuan memohon (permohonan) Contoh: 1) Sudilah kiranya Bapak mengabulkan permohonan saya ini? 2) Bisakah Bapak meluangkan waktu untuk menjelaskan masalah ini. b. Untuk tujuan meminta (permintaan) Contoh: 1) Jika Anda ikhlas, bolehkah makanan ini saya bawa? 2) Anda sangat baik hati. Bolehkah saya ikut berteduh di halam rumah? c. Untuk tujuan menyuruh Contoh: 1) Mengapa Anda masih di luar? Ayo, silakan masuk. 2) Pergilah Anda sekarang agar tidak terlambat. d. Untuk tujuan mengajak Contoh: 1) Siapakah yang akan menemani saya pergi ke undangan. Jika Anda ada waktu, ikutlah bersama saya. 2) Apakah yang menyebabkan Anda tidak pergi, ayo pergi bersama saya. e. Untuk tujuan merayu Contoh: 1) Mengapa tidak Anda berikan barang itu kepada Siti? Ia sangat mengharapkannya. Bukankah kalian dermawan? Saya yakin barang itu akan diberikan kepadanya. 2) Kamu jangan marah terus. Apakah kamu menyukai saya? f. Untuk tujuan menyindir Contoh: 1) Jika saya orang kaya, apa yang kamu mau akan saya berikan? (sindiran kepada seseorang yang kikir). 2) Mengapa sumbangan ibu besar sekali? Nanti ibu jadi orang miskin. (sindiran bagi orang kaya apabila me nyumbang selalu sedikit)

g. Untuk tujuan meyakinkan Contoh: 1) Apakah ibu tidak percaya pada saya? Percayalah saya pasti membantu Anda. 2) Mengapa Bapak ragu terhadap saya? Saya akan buktikan, tunggu saja nanti. h. Untuk tujuan menyanggah Contoh: – Bagaimana pun usaha yang dilakukan oleh saya tidak akan menyelesaikan masalah, kecuali mempertemukan kedua belah pihak dalam keadaan sama-sama sadar.

 

Ciri Kalimat Efektif Menggunakan Kalimat yang Baik, Tepat, dan Santun | medsis | 4.5