Cara Memberikan Kritik Kalimat dan Contoh Yang Baik dan Benar

Cara Memberikan Kritik Kalimat dan Contoh Yang Baik dan Benar

Cara Memberikan Kritik – Dalam bagian ini, Anda akan berlatih memberikan kritik terhadap informasi dari media cetak atau elektronik. Sebelum itu, pahamilah terlebih dahulu materi mengenai kritik. Dengan demikian, daya kritis Anda akan meningkat. Kemampuan mengemukakan gagasan Anda pun akan bertambah.

Cara Memberikan Kritik – Sebelumnya, Anda telah mendengarkan informasi. Mungkin informasi-informasi tersebut tidak sesuai dengan pendapat Anda. Anda ingin memberikan kritik tentang informasi tersebut. Anda dapat memberikan kritik terhadap informasi yang Anda dapat. Namun, Anda tidak boleh sembarangan memberikan kritik. Ada etika dan cara mengkritik yang baik. Dengan kritik yang baik, kita dapat berperan memberikan kontribusi terhadap penyelesaian masalah, suksesnya suatu pekerjaan, dan lain-lain. Oleh karena itu, kali ini Anda akan mempelajarinya. Jika Anda amati, informasi yang Anda dengar tentang monorail pada pembelajaran sebelumnya merupakan sebuah kritik terhadap persoalan monorail.

 Kritik tersebut tersusun berdasarkan pokok persoalan yang menjadi perdebatan umum di kalangan masyarakat, di antaranya: Apa isunya? Pembangunan monorail di Jakarta. Kapan dimunculkan? Pertengahan tahun 2003. Apa yang menjadi latar belakangnya? Terutama tentang persoalan ketidaksiapan pihak konsorsium pelaksananya. Sejak rencana proyek ini mulai digagas dan diungkapkan, sebenarnya sudah banyak pihak yang mempertanyakan kesiapan Pemprov Jakarta dalam pembangunan proyek besar di bidang transportasi ini. Pertanyaan tersebut bukan berkaitan dengan bermanfaat atau tidak monorail, melainkan lebih tentang pihak swasta atau investor yang akan menjadi partner Pemprov Jakarta dalam merealisasikan proyek prestisius tersebut.

Cara Memberikan Kritik – Misalnya saja mempertanyakan garansi atau jaminan yang dapat diberikan Pemprov Jakarta bahwa investor yang akan digaet benar-benar profesional dan memiliki kapasitas. Sayangnya, semua pertanyaan publik itu tidak pernah mendapat jawaban jelas dan tegas dari pihak Pemprov Jakarta dan pelaksanaan proyek ini semakin memburuk hingga kini. Kritik tersebut juga tersusun dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar serta runtut. Kritik tersebut dapat dipahami karena disertai alasan berdasarkan analisis yang dilakukan sebelumnya. Jadi, kritik tersebut tidak asal ucap, tetapi berdasarkan pemahaman dan pemikiran yang mendalam. Oleh karena itu, kritik seperti itu dapat menjadi bahan masukan yang bermanfaat untuk memecahkan suatu masalah. Berikut ini terdapat sebuah informasi yang menjadi perdebatan umum di masyarakat.

Cara Memberikan Kritik

Cara Memberikan Kritik –

Kenaikan Harga BBM dan Kemiskinan: Tanggapan atas Tanggapan 

Cara Memberikan Kritik – Sebagai peneliti yang melakukan kajian tentang kenaikan harga BBM termasuk kemiskinan, saya sebetulnya sangat gembira melihat begitu banyaknya tanggapan terhadap studi ini. Tetapi saya ikut sedih melihat kebanyakan tanggapan tidak diikuti dengan analisis yang menggunakan metodologi yang memadai. Umumnya tanggapan ini lebih disebabkan oleh sangkaan yang tidak mendasar sehingga seolaholah riset ini dilakukan secara parsial tanpa melihat kelompok yang lain dan kurang jelas. Mari sedikit saya jelaskan bagaimana sejarah penelitian ini. Penelitian ini dimulai sejak tahun 2000 pada saat LPEM diminta baik oleh Kantor Menko Perekonomian (Pak Kwik Kian Gie masih menjadi Menko) dan Departemen ESDM (Pak Presiden SBY waktu itu menjadi menterinya) menyiapkan kajian tentang dampak makro BBM. Kajian dimulai dari sekedar analisis sangat sederhana dengan melihat perbedaan harga domestik dan luar negeri dan distribusi penerima subsidi BBM. Kebetulan saya pribadi sejak tahun 1992 melakukan riset individual melihat dampak regresif dari harga BBM. Karena BBM dinaikkan setiap tahun (2001 dan 2002) maka LPEM diminta melanjutkan proses ini termasuk melakukan sosialisasi di beberapa daerah di Indonesia tentang dampak BBM. Metodologi penelitian pun disempurnakan setelah mendapatkan feedback dari pertanyaan di daerah saat kami melakukan sosialisasi termasuk dalam melihat dampaknya terhadap rumah tangga khususnya rumah tangga miskin.

Cara Memberikan Kritik – Bagaimana Dampak terhadap Kemiskinan dihitung? Dalam melakukan analisis ini kami menggunakan baik pendekatan Computable General Equlibrium (CGE) maupun pendekatan sistem permintaan yang dikembangkan oleh Prof. Angus Deaton dari Princeton University yang hingga kini dianggap merupakan pendekatan empirikal terbaik. Sumber data yang digunakan sepenuhnya berasal dari Susenas yang diterbitkan oleh BPS yang menjadi dasar perhitungan tingkat kemiskinan di Indonesia. Dalam menghitung dampak harga baik secara langsung, maupun tidak langsung kami menggunakan hasil dari model CGE sehingga sudah memperhitungkan dampak tambahan (multiplier) dari kenaikan BBM. Dengan menggunakan elastisitas permintaan yang diestimasi secara terpisah, hasil perhitungan dampak harga ini kemudian dimasukkan dalam persamaan yang merupakan hasil optimasi konsumen dalam memaksimumkan tingkat kesejahteraan dengan kendala anggaran. Kenaikan harga tentu akan mengakibatkan penurunan daya beli (pendapatan riil). Dampak ini sangat bervariasi tergantung pada pola konsumsi dan sensitivitas dari harga setiap komoditi terhadap kenaikan harga BBM. Rumah tangga miskin umumnya relatif terproteksi mengingat tiga hal. Pertama, pangsa konsumsi langsung BBM relatif kecil. Untuk BBM non minyak tanah, pangsa kelompok 40% terbawah kurang dari 1 % dari total pendapatan. Hanya minyak tanah yang lumayan besar yaitu sekitar 2,6% dari total pengeluaran.

Cara Memberikan Kritik – Kedua, konsumsi komoditi yang sensitif terhadap kenaikan BBM pun relatif kecil seperti pengeluaran untuk transportasi. Ketiga, Komoditi yang dominan dalam pola konsumsi rumah tangga 40% terbawah yaitu beras sebetulnya juga tidak bergerak banyak karena harga komoditi ini dijaga oleh pemerintah dan kenaikan harga BBM dilakukan pada saat siklus harga beras mengalami penurunan. Walhasil kalau kita lihat beban kenaikan harga BBM hingga tingkat pendapatan menengah atas cenderung meningkat lebih dari proposional dan menurun lagi – walaupun masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok 40% terbawah. Hasil perhitungan dampak pendapatan riil ini kemudian ditranslasikan dalam perhitungan indeks kemiskinan dengan menggunakan nilai pengeluaran RT yang baru setelah kenaikan harga BBM. Secara logis kemudian, tingkat kemiskinan meningkat. Simulasi kami menunjukkan peningkatan indeks kemiskinan yang terjadi untuk tahun 2005 lebih kecil daripada tahun 2002 atau 2003 (pada saat kenaikan dibatalkan) karena kenaikan harga kali ini tidak diikuti dengan kenaikan harga listrik. Tingkat kemiskinan kemudian mengalami penurunan tatkala kelompok termiskin mendapatkan kompensasi yang jumlahnya lebih besar dari kebutuhan untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan yang sama seperti sebelum kenaikan harga BBM. Pendekatan ini dalam teori ekonomi mikro dikenalkan dengan pendekatan Compensating Variation – yang seharusnya dipahami oleh seluruh mahasiswa dan lulusan Fakultas Ekonomi. Jelas disini perhitungan yang kami lakukan mencakup seluruh rumah tangga yang ada dalam Susenas. Saya ingin menjelaskan secara gamblang dengan menggunakan contoh konkret tanpa menggunakan sistem persamaan permintaan di atas. Saya dalam menjelaskan ini secara sadar membiarkan terjadi double counting dalam perhitungan kenaikan biaya untuk memberikan semacam shockbreaker atau pengaman jika kebocoran benar-benar terjadi. Kita ambil rumah tangga yang pengeluarannya sama dengan garis kemiskinan. Berdasarkan Susenas 2002, garis kemiskinan rata-rata sekitar Rp114.000 per kapita per bulan. Untuk mendapatkan nilai garis kemiskinan tahun 2005, kita hitung dengan akumulasi inflasi selama tiga tahun yaitu 6% per tahun . Perhitungan ini menghasilkan garis kemiskinan baru sebesar Rp135 ribu per kapita per bulan. Supaya aman dengan memperhitungkan dampak inflasi tambahan dan mudah menghitungnya, kita mark-up saja menjadi Rp150 per kapita per bulan atau kira-kira Rp650 ribu per keluarga perbulan. Kenaikan BBM nonminyak tanah sebetulnya hanya meningkatkan biaya per rumah tangga hanya Rp6500 per bulan dan kalau biaya transportasi diperhitungkan lagi, total pengeluaran meningkat sekitar Rp12.000 per bulan per keluarga. Lalu, karena keluarga ini mendapatkan raskin 20 kg dan membayar hanya Rp1000 per kg, keluarga ini secara implisit mendapat transfer sebesar 20 x (Rp 2.800 – Rp1.000) = Rp.36.000 per bulan. Kalaupun beras yang diterima hanya 10 kg saja, transfer yang diterima adalah Rp18.000 per bulan dan jumlahnya masih lebih besar dari kenaikan biaya tersebut.Dengan menggunakan raskin saja, keluarga ini telah overcompensated. Apalagi kalau ditambahkan dengan pengeluaran pendidikan yang berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp160 ribu per bulan dan tabungan pengeluaran kesehatan karena berdasarkan Susenas 2002 dan di-markup untuk tahun 2005 kira-kira sekitar Rp20 ribu per bulan per keluarga. Harap dicatat pula simulasi di atas hanya memperhitungkan kompensasi beras plus SPP (hanya kira-kira sepertiga dari subsidi pendidikan yang direncanakan). Tanpa menggunakan perhitungan yang rumit tadi secara jelas, akibat transfer yang diperoleh kenaikan harga BBM tadi, pendapatan keluarga miskin mengalami kenaikan dan mendorong mereka keluar dari garis kemiskinan. Mengingat jarak ratarata pendapatan penduduk miskin dengan garis kemiskinan (poverty gap) di Indonesia tidak terlalu besar–karena mayoritas pendapatan mereka berada di sekitar garis kemiskinan, akan banyak keluarga miskin yang bisa terangkat. Tetapi bukan tidak ada keluarga yang mengalami turun status menjadi miskin akibat kenaikan BBM ini akibat RT ini tidak mendapatkan eligible mendapatkan kompensasi– ingat simulasi menunjukkan indeks kemiskinan meningkat hampir 0,5% atau 1 juta RT yang berubah menjadi miskin. Tetapi secara netto, jumlah yang terangkat lebih besar dibandingkan yang mengalami penurunan pendapatan. Siapa yang Dimenangkan dan Dikalahkan Akibat Kebijakan Ini? Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial yang mengambil pelajaran ekonomi pembangunan tentu paham tentang koefisien ketimpangan seperti Indeks Gini atau Indeks Theil. Menggunakan indeks Gini, kita tahu kalau mendekati nilai 1 maka distribusinya sangat timpang. Artinya, semua pendapatan suatu perekonomian dimonopoli oleh 1 keluarga. Kalau kita memakai indeks Gini ini untuk menghitung distribusi subsidi, hampir semua komponen BBM, indeksnya nyaris mendekati 1. Hanya minyak tanah yang nilai sekitar 0,6 – itu pun sudah timpang. Apa artinya hal ini?

Berita selangkapnya di Sumber: Pasific Link, 23 Agustus 2007

Cara Memberikan Kritik Kalimat dan Contoh Yang Baik dan Benar | medsis | 4.5