Cara Membaca Ekstensif Teks Nonsastra

Cara Membaca Ekstensif Teks Nonsastra

Cara Membaca Ekstensif

Cara Membaca Ekstensif

Cara Membaca Ekstensif – Apabila ingin memperoleh suatu kesan umum dari suatu buku nonfiksi (sejarah, biografi, ilmu pengetahuan, seni, dan lain-lain) dengan cepat, kita dapat melakukannya dengan jalan meneliti halaman judul, kata pengantar, daftar isi, dan indeks. Kita akan memperoleh suatu pandangan yang lebih baik jika kita mengikuti langkah ini dengan membuka-buka halaman buku tersebut dengan cepat, melihat pada bab dan subbab, gambar, peta, skema, dan diagram. Dengan cara tersebut, menurut pendapat Henry Guntur Tarigan, kita dapat mempelajari sifat hakikat dan jangkauan buku tersebut, susunan atau organisasinya, dan sikap umum sang penulis, serta pendekatannya terhadap bahan atau subjek pembicaraan. Marilah kita membaca teks berikut secara runtut!

Teks 1

Swakelola, Menjadikan Sampah Berdaya

Guna Pengolahan sampah dengan sistem swakelola sudah dirintis sejak bebera tahun lalu. Sistem pengolahan sampah seperti ini jelas mengurangi tugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kodia Denpasar. Hingga saat ini, diperkirakan lebih dari 172 kelompok yang telah melakukan penanganan sampah secara swakelola. Menariknya, beberapa pengolahan sampah di Denpasar melakukan daur ulang sampah organik menjadi pupuk. Seperti yang dilakukan di Sanur kaja, Sanur Kauh, dan Tegal Kerta, Denpasar Barat. Pengolahan sampah yang dilakukan masyarakat di tiga tempat ini menjadikan sampah sebagai barang yang berharga. I Made Sunarta, pimpinan depo pengolahan sampah terpadu Cemara di Sanur Kaja yang ditemui Senin (4/6) kemarin, mengatakan pengolahan sampah yang dilakukan di deponya menggunakan sistem fermentasi untuk mengubah sampah menjadi pupuk organik.

Cara Membaca Ekstensif – Langkah awal yang mesti dilakukan adalah memisahkan sampah plastik dengan non plastik (organik). Sampah organik ini akan diproses menjadi pupuk melalui proses fermentasi berhari-hari. Sunarta mengatakan sampai saat ini pihaknya sudah mampu mengolah sampah yang berada di wilayah Desa Sanur Kaja dan beberapa wilayah terdekat di sekitarnya. Depo yang dikelolanya sejak empat tahun lalu ini sudah mampu mengolah sampah sebanyak 15 ton per hari, sedangkan untuk wilayah Sanur Kaja, produksi sampahnya baru mencapai 10 ton per hari. Sampah yang diproses di depo tersebut dari sampah hotel, restoran, dan rumah tangga. Sedikitnya terdapat 12 orang pekerja yang setiap hari melakukan proses pengolahan sampah ini. Keduabelas tenaga tersebut sudah termasuk tenaga penjemput sampah di masing-masing tempat. ”Sistem pengolahan sampah seperti ini sejatinya bisa mengurangi pembuangan sampah ke TPA. Selain itu, sampah yang diproses akan mendatangkan uang melalui pupuk organik hasil pengolahan sampah dimaksud,” ujar Sunarta. Hal yang sama juga dilakukan warga Sanur Kauh. Sampah diolah menjadi pupuk organik. Langkah ini dikembangkan dengan menggunakan kompos dan bahan lain yang ramah lingkungan, sehingga menghasilkan produk berguna bagi pertanian.

Cara Membaca Ekstensif – Sampah diolah di depo Pala Sari Desa Pakraman Intaran, Sanur Kauh. ”Masyarakat Sanuh Kauh menghasilkan sampah berkisar 6 sampai 7 ton per hari. Hany saja baru 3 ton yang bisa ditangani melalui depo yang diresmikan Februari 2007 lalu,” ujar I Made Dana. Sementara itu, Walikota Denpasar A.A. Puspayoga mengakui sampah di Denpasar sehari-hari semakin banyak, namun belum mampu dikelola secara maksimal karena keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki. Apa yang dilakukan masyarakat Desa Sanur sudah mampu membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah. Swakelola penanganan juga berlangsung di Bandung. Desa Adat Seminjak, misalnya, memiliki usaha jasa kebersihan mengangkut sampah. Bendesa Adat Seminjak Wayan Mara belum lama ini mengatakan, usaha ter-sebut dirintis dalam upaya membuka lowongan pekerjaan bagi krama. Usaha ini mampu mem-beri kontribusi bagi desa adat. Bermodalkan sejumlah tenaga kebersihan dan beberapa kendaraan pengangkut sampah, usaha ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Para pemakai jasa ini adalah krama itu sendiri dan kalangan pariwisata yang belum terjangkau Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Bandung. ”Kami memiliki tiga truk pengangkut sampah dan sejumlah tenaga kebersihan yang semuanya krama Seminjak,” katanya. Sampah-sampah rumah tangga, hotel, restoran, bar, vila, dan bungalo dikumpulkan, kemudian diangkut menggunakan truk ke tempat pembuangan akhir (TPA). Ke depan, diupayakan akan ada pengelolaan sampah di LC Sunset Road bekerja sama dengan DKP. Dari usaha pengelolaan sampah itu diharapkan mampu menghasilkan pupuk organik.

Cara Membaca Ekstensif

Sumber: Bali Pos, Selasa, 5 Juni 2007

Teks 2

Pemanfaatan Sampah Menjadi Tenaga Listrik Pembangunan

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

Gedebage akan mulai dikerjakan akhir Desemper 2007. Penanganan sampah melalui pemanfaatan teknologi tinggi (WTE) atau mengolah sampah menjadi energi listrik, merupakan solusi tepat penanganan sampah hingga tuntas. Hal tersebut diungkapkan Wali Kota Bandung, H. Dada Risada, S.H. M.Si. ketika menerima laporan Dirut PD Kebersihan mengenai kesiapan pembangunan PLTSa, Jumat (9/11) di ruang rapat Pendopo Jalan Dalem Kaum. Menurut Dada, peletakan batu pertama pembangunan PLTSa direncanakan pada 31 Desember 2007. Diungkapkan, semua unsur satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait dan pengembang, PT BRIL telah menyatakan kesiapannya. Terkait dengan kesiapan tersebut, Dada telah menerima laporan secara rinci mengenai langkah-langkah PT BRIL dalam pembangunan PLTSa. Di antaranya pada 15 November 2007 PT BRIL akan menyelesaikan penguasaan lahan, penandatanganan MoU dengan PDAM untuk suplai air dari pengolahan air kotor Bojongsoang ke PLTSa Gedebage, serta menyelesaikan izin menggunakan dan peruntukan tanah (IPPT) dari Dinas Tata Kota (DTK). Selanjutnya, diungkapkan Dada, PT BRIL akan menyelesaikan amdal lalu lintas dan bajir melalui koordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Pengairan Kota Bandung (30 Desember 2007).

Cara Membaca Ekstensif – Dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama PD Kebersihan Kota Bandung dengan PT BRIL (15 Desember 2007), serta penyelesaian izin pematangan tanah dan IMB (21 Desember 2007). ”Sementara untuk rencana peletakan batu pertama pembangunan PLTSa dijadwalkan pada 31 Desember 2007,” kata Dada. Pada kesempatan itu, Dada mengatakan, penanganan sampah Kota Bandung melalui pemanfaatan teknologi tinggi WTE, merupakan solusi tepat penanganan sampah tuntas dan permanen atau tidak akan menyisakan persoalan. Sebab teknologi ini sudah dilakukan beberapa negara maju, seperti Amerika, Belanda, Jerman, dan Cina. Selesaikan Masalah Teknologi ini mampu menyelesaikan masalah sampah kota-kota besarnya, bahkan abu sisa pembakarannya secara ilmiah bisa batu bara untuk keperluan bangunan rumah. ”Tentu saja Kota Bandung sebagai kota teknologi dengan banyak perguruan tinggi, termasuk ITB, ingin tampil sebagai pelopor penggunaan WTE di Indonesia. Karena cara-cara lama dengan sistem sanitarian landfil, apalagai open dumping, sangat berisiko tinggi. Prabrik WTE ini yang pasti bukan tempat pembuangan sampah, tetapi tempat pengobatan sampah nonpolutan yang berwawasan lingkungan” papar Dada. Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Bandung, Drs. H. Tjetje Subrata, S.H., M.M. mengatakan, kebijakan pembangunan PLTSa Gedebage tidak lurus dicurigai. Sejak awal pemkot berupaya kasar agar PLTSa benar-benar aman bagi warga. Bahkan, mencarikan teknologi tinggi untuk mengatasi kemungkinan adanya dampak yang ditimbulkan. ”Itulah sebabnya kita meminta ITB untuk melakukan kajian, termasuk pelaksanaan amdalnya. Proses ini meyakinkan kita untuk pengambilan keputusan untuk tetap menggunakan WTE,” ujar Tjetje.

Sumber: Galamedia, 10 November 2007

Cara Membaca Ekstensif

Pokok-pokok apa yang disampaikan pada kedua teks tersebut? Kedua teks tersebut menguraikan cara mengolah sampah. Untuk mengetahui perbedaan isi kedua teks tersebut, kalian perlu membandingkannya.

1. Catatlah pokok-pokok isi setiap sumber teks tersebut di buku tulismu

2. Catatlah rujukan sumber tertulis tersebut! a. Di surat kabar apa teks tersebut dimuat? b. Kapan teks tersebut diterbitkan atau dimuat di surat kabar tersebut?

Menulis Puisi Lama

Menulis puisi bagian dari ekspresi sastra, yaitu mengekspresikan ide-ide, gagasan, dan imajinasi ke dalam kata-kata. Menulis puisi memang memerlukan latihan dan imajinasi. Coba kalian berlatih menulis puisi. Caranya, petik setangkai bunga dan simpanlah di atas meja. Kembangkan imajinasi kalian, misalnya benda itu disebut bunga? Kenapa bunga itu dikatakan indah? Kenapa bisa harum? Kenapa orang menikah mesti dihiasi bunga? Mengapa wanita diibaratkan sebagai bunga? Nah, bermainlah dengan kata-kata dalam imajinasi kalian. Tuangkan ke dalam rentetan kata-kata yang mengarah pada makna keindahan bunga dan makna bunga dalam kehidupan. Ketika kalian belajar membacakan puisi, kalian telah mengetahui bahwa di dalam puisi sering terdapat permainan bunyi. Permainan bunyi dalam puisi berfungsi menimbulkan kepuitisan. Permainan bunyi itu, misalnya tampak pada penggunaan rima atau persajakan. Pantun juga termasuk puisi, yaitu puisi lama. Sama seperti menulis puisi modern/kontemporer, menulis pantun dan syair juga perlu daya khayal/imajinasi. Perhatikan contoh pantun ini!

Cara Membaca Ekstensif

Cara Membaca Ekstensif Teks Nonsastra | medsis | 4.5