Pancasila Dalam Kehidupan Bermasyarakat Berbangsa dan Bernegara

Pancasila Dalam Kehidupan Bermasyarakat Berbangsa  dan Bernegara

Berbangsa dan Bernegara

Berbangsa dan Bernegara

Berbangsa dan Bernegara

Pancasila Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara

Berbangsa dan Bernegara – Sebagai warga negara yang baik, sepatutnya kita pahami betul bagaimana menyikapi, mencermati Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sebelumnya alangkah lebih baik apabila kita ketahui terlebih dahulu, bagaimana proses penyusunan Pancasila serta sejarahnya?

Berbangsa dan Bernegara – Semangat kebangsaan tampak pada para tokoh yang terlibat dalam diskusi pada sidang BPUPKI dan PPKI. Mereka memiliki kesadaran bahwa bangsa kita memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah dari bangsa lain. Oleh karena itu, rumusan pandangan hidup yang mereka ajukan tidak mengambil dari ide yang ada pada kebudayaan bangsa lain.

Berbangsa dan Bernegara – Sekalipun mereka memahami berbagai ide dari luar, misalnya Ir. Soekarno menyebut ideologi Cina, ideologi nasionalisme dan sosialisme, Jerman zaman Hitler serta pandangan hidup Rusia. Semua itu, dijadikan sebagai bahan perbandingan. Jiwa keanekaragaman beragama tampak jelas dalam membahas dasar negara, agama (yang berkaitan dengan sila pertama) menjadi titik perhatian utama. Keseriusan dalam menempatkan agama pada posisi yang tepat dalam kehidupan bernegara tampak dalam pidato Bung Karno di depan sidang pleno II BPUPKI tanggal 14 Juli 1945.

Pancasila lahir dari sumber budaya dan sumber ajaran agama. Budaya bangsa Indonesia memiliki nilai yang luhur dan layak untuk dijadikan landasan bernegara, dan ajaran agama, khususnya memiliki kelengkapan nilai yang sangat luhur. Hal ini akhirnya dikristalisasikan dalam melahirkan Pancasila oleh para pendiri bangsa secara arif dan bijaksana. Nilai-nilai Pancasila memiliki unsur-unsur yang ada dalam kebudayaan, adat, dan agama-agama yang ada di Indonesia.

Proses penyusunan Pancasila tidak terlepas dari tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia yaitu: 1. Dasar kepercayaan bangsa Indonesia atas manusia pertama di dunia yaitu Adam dan Hawa berdasarkan keyakinan agama tanpa membutuhkan pembuktian alamiah yang relatif. 2. Masa gemilang Sriwijaya dan Majapahit sebagai negara yang bersatu dan berdaulat, telah memiliki unsur-unsur dari Pancasila. Oleh karena itu, dapat dikatakan pada saat itu bahwa bangsa Indonesia (sebagai raga) dan jiwa Pancasila telah ada. 3. Selama ± 350 tahun penjajahan Belanda telah melenyapkan kedaulatan, persatuan, kemakmuran, dan ketertindasan lahir batin. Hal ini mendorong para pemimpin bangsa untuk memperjuangkan memperbaiki nasib rakyat.

4. Perlawanan fisik dilakukan oleh bangsa secara sendiri-sendiri sehingga belum berhasil mengenyahkan penjajah. Di samping itu, teknologi peperangan yang kita miliki belum modern, demikian pula politik adu domba Belanda memperpanjang penderitaan rakyat. 5. Para pemimpin bangsa merintis perjuangan dengan pendidikan dan persatuan serta kesadaran berbangsa untuk memajukan bangsa. 6. Melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dengan tegas kita menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. 7. Tonggak penjajahan Jepang merupakan puncak penderitaan bangsa, tetapi tidak memadamkan semangat perlawanan terhadap Jepang. 8. Melalui BPUPKI, bangsa Indonesia secara legal mempersiapkan kemerdekaannya untuk merumuskan syarat-syarat berdirinya suatu negara yang berdaulat. 9. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. Muh. Yamin telah mengusulkan lima asas Dasar Negara RI (tanpa istilah Pancasila) seperti yang ada dalam Pembukaan UUD 1945. 10. Pada tanggal 1 Juni 1945 Ir. Soekarno mengemukakan lima dasar falsafah negara Indonesia yang dinamakan Pancasila, perumusan dan sistematikanya berbeda dengan yang ada dalam Pembukaan UUD 1945. Pancasila disebut Dasar Falsafah Negara. 11. Pada tanggal 22 Juni 1945 sembilan tokoh badan penyelidik berhasil merumuskan landasan perjuangan bangsa yang dikenal dengan Piagam Jakarta/Jakarta Charter. 12. Pada tanggal 14 Juni 1945 atas usul Ir. Soekarno, Piagam Jakarta oleh Badan Penyelidik dijadikan pembukaan dalam pandangan hukum dasar pada sidang II BPUPKI antara 10-16 Juli 1945. 13. Pada tanggal 9 Agustus 1945 terbentuknya PPKI sebagai wakil seluruh rakyat Indonesia yang merupakan pembentuk negara dan berwenang menetapkan hukum dasar fundamental. 14. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan titik kulminasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang didorong amanat penderitaan rakyat dan dijiwai Pancasila. 15. Pada tanggal 18 Agustus 1945 disahkannya UUD 1945 oleh PPKI sebagai badan yang mewakili seluruh bangsa Indonesia, pembentuk negara menurut hukum tata negara Indonesia, dan peletak pokok kaidah negara yang fundamental. Nah, setelah kita bahas proses penyusunan Pancasila beserta sejarahnya, berikut akan diuraikan bagaimana menyikapi Pancasila secara positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menunjukkan Sikap Positif terhadap Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara

Pancasila bersifat abstrak, memiliki pengertian yang luas, umum universal. Oleh karena Pancasila bersifat tetap dan tidak berubah. Hal ini berarti Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara Indonesia mempunyai kedudukan mutlak yang dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa, karena semua aspek kehidupan dalam pelaksanaannya dijabarkan dari nilai-nilai Pancasila. Penjabaran nilai-nilai Pancasila dapat kita lakukan melalui pengamalan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Mengamalkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, berarti melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari supaya memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Kita mempuyai tuntunan bertingkah laku, antara lain melalui beberapa butir kewajiban moral yang sudah diuraikan sebelumnya.

Selain itu, yang perlu kita kembangkan adalah norma-norma yang berlaku di negara kita. Norma adalah petunjuk tingkah laku yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan didasari alasan tertentu dengan disertai sanksi.

Norma-norma yang ada terdiri dari norma agama dengan sanksi agama, norma kesusilaan dengan sanksi rasa susila; norma sopan santun dengan sanksi sosial dari masyarakat; dan norma hukum dengan sanksi hukum dari Pemerintah (alat-alat negara).

Norma-norma yang berlaku di masyarakat dapat digali dari: a. Sila-sila Pancasila (termasuk di dalamnya ajaran agama) misalnya: 1) Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya, saling menghormati dan bekerja sama membina kerukunan hidup antarsesama umat agama dan penganut kepercayaan. 2) Memperlakukan sesama manusia sesuai keluhuran martabatnya sebagai makhluk Tuhan yang berakal; mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban; tenggang rasa; tidak semena-mena kepada orang lain; gemar melakukan usaha kemanusiaan; dan menganggap bagian dari umat manusia.

3) Cinta tanah air dan bangsa, menempatkan persatuan dan kesatuan; kepentingan pribadi atau golongan; serta menjunjung tinggi kebudayaan nasional. 4) Menyadari hak dan kewajiban; aktif dalam kehidupan masyarakat; tidak memaksakan kehendak kepada orang lain; melaksanakan musyawarah dengan semangat kekeluargaan dilakukan dengan akal sehat, sesuai hati nurani dan dilandasi itikad baik melaksanakan, keputusan bersama. 5) Membangun masyarakat yang aktif dalam sosial ekonomi dan budaya.

b. Pokok-pokok pikiran Pembukaan UUD 1945.

c. Prinsip-prinsip UUD 1945.

d. Ketetapan-ketetapan MPR dan segala peraturan yang berlaku.

e. Norma-norma perjuangan bangsa, nilai-nilai dan jiwa 1945.

f Norma-norma lainnya yang bersumber kepada kepribadian bangsa Indonesia.

Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 menjiwai UUD 1945 yang memuat susunan pemerintahan di Indonesia. Mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara berarti menjadikan Pancasila sebagai landasan untuk mengatur penyelenggaraan pemerintahan negara.

Pokok-pokok pelaksanaan tersebut meliputi: a. Mengamalkan pokok-pokok pikiran Pembukaan UUD 1945 dalam bernegara yaitu mewujudkan persatuan Indonesia, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, melaksanakan kedaulatan rakyat dan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, serta mencita-citakan negara yang berdaulat, merdeka dan anti penjajahan. b. Mengamalkan prinsip-prinsip pikiran Pembukaan UUD 1945 yaitu menjunjung tinggi dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, hak asasi manusia berdasar Pancasila, kesamaan kedudukan di depan hukum dan pemerintahan, sistem ekonomi berdasarkan usaha bersama dan kekeluargaan, sistem budaya nasional, hak dan kewajiban bela negara serta sistem pemerintahan berdasarkan sistem demokrasi dengan ketentuan-ketentuan: 1) Negara hukum 2) Sistem konstitusional 3) Pemerintahan bertanggung jawab pada rakyat 4) Sistem kabinet Presidensial 5) Adanya pengawasan parlemen 6) Peradilan yang bebas dan tidak memihak 7) Otonomi daerah

c. Mengamalkan bidang-bidang lain dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yaitu memajukan kehidupan keagamaan, kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan/kedaulatan dan sosial ekonomi.

Prof. Dr. Drs. Notonegoro, S.H. membagi dua bidang kehidupan yang harus kita jalani meliputi: 1) Kehidupan manusia yaitu sosial, ekonomi, teknologi kebudayaan, kesusilaan, pendidikan, ilmu pengetahuan, kejiwaan, keagamaan dan kepercayaan. 2) Kehidupan negara yaitu pemerintahan, perundang-undangan, peradilan, politik dan pertahanan keamanan. Dengan mengetahui bidang-bidang dan ruang lingkup kehidupan yang harus dilalui, maka kita harus menentukan langkah dan perbuatan yang sesuai dengan ideologi Pancasila, bukan ideologi-ideologi lain di dunia karena Pancasila merupakan kepribadian kita bangsa Indonesia.

Itulah yang bisa kami sampaikan atau sajikan materi tentang pancasila semoga materi ini bisa membantu anda untuk mengetahui lagi tentang pendidikan kewarganegaraan ! Terima kasih, salam mediasiswa

Pancasila Dalam Kehidupan Bermasyarakat Berbangsa dan Bernegara | medsis | 4.5