Pelajaran Bahasa Indonesia Tentang Artikel Peristiwa

Pelajaran Bahasa Indonesia Tentang Artikel Peristiwa

Artikel Peristiwa

Artikel Peristiwa

Artikel Peristiwa – Setiap saat kita mengalami peristiwa. Berarti atau tidaknya sebuah peristiwa tergantung kepada seberapa jauh kita terkesan olehnya. Memahami berbagai peristiwa dan menghubungkannya dengan pendewasaan diri adalah sikap yang bijak. Peristiwa sekecil apa pun, dapat menjadi bahan pembelajaran dan pendidikan. Mengingat pentingnya sebuah peristiwa, tidak ada salahnya jika dalam proses pelatihan berbahasa dalam pelajaran 4 ini, Anda membatasi diri dengan payung tema peristiwa. Ingat, peristiwa bisa menjadi sarana pencerahan jiwa!

Artikel Peristiwa – Menanggapi masalah dalam artikel atau buku 1. Mencatat masalah dari berbagai sumber Debat adalah salah satu bentuk diskusi atau pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Dalam debat, menjatuhkan pendapat orang lain dibenarkan asal tetap dalam koridor keilmuan dan objektivitas. Dalam sebuah diskusi, sering kita menemui permasalahan-permasalahan yang diperdebatkan oleh peserta dengan mengutip dari artikel-artikel yang termuat dalam sumber tertentu. Dalam kondisi seperti ini, kita dituntut mampu mencatat judul artikel-artikel tersebut, dengan tujuan:

Artikel Peristiwa

a. mengecek kebenaran pernyataan pengutip, serta b. mengetahui dan atau mendalami lebih lanjut isi artikel secara keseluruhan. 2. Menanggapi masalah dalam berita, artikel, dan buku Di bawah ini contoh pernyataan yang memuat kutipan dari sebuah sumber berupa artikel. Saudara Pemandu, saya kira apa yang dikemukakan oleh Saudara Alfian mengenai sebab-sebab pencemaran lingkungan kurang mengenai sasaran. Pada kenyataannya, pencemaran lingkungan lebih banyak disebabkan oleh pola atau perilaku hidup yang jauh dari semangat menjaga kelestarian alam. Jadi, tidak ada alasan yang sifatnya psikis. Ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Satmono, M.Sc. dalam artikelnya berjudul Gelombang Pencemaran Alam Akan Menenggelamkan Bumi yang dimuat dalam buku Program Pemerintah Kehilangan Jiwa dengan editor Gunawan Asnan, penerbit Grasindo, Bandung, tahun 2001, halaman 56.

Artikel Peristiwa

3. Mengajukan saran terhadap masalah yang disampaikan Pernyataan : ”Dewasa ini lingkungan kota besar, kota kecil, bahkan di desa pun tak teratur. Pembuangan sampah sembarangan; pembuangan limbah cucian, baik dari rumah penduduk maupun dari warung makin tidak teratur. Hal ini mengakibatkan dampak buruk bagi penghuni sekitarnya.” Saran : ….

Artikel Peristiwa

4. Mendaftar kata-kata sulit cakap tunggal : cakapan panjang yang diucapkan oleh seorang tokoh dalam sebuah karya sastra, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun kepada pembaca/pendengar; monolog debung : tiruan bunyi beduk, gendang dekor :

Artikel Peristiwa

1. perlengkapan panggung, teater yang diatur sedemikian rupa sehingga menggambarkan tempat kejadian; 2. hiasan durma : bentuk komposisi tembang jenis macapat (Jawa, Sunda, Bali) biasanya untuk melukiskan cerita-cerita keras film : 1. selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) atau tempat gambar positif (yang akan dimainkan dalam bioskop); 2. lakon (cerita) gambar hidup film bisu : film yang tokoh-tokohnya tidak bersuara (film tanpa suara tokoh) film dokumenter : dokumentasi dalam bentuk film mengenai suatu peristiwa sejarah atau suatu aspek seni budaya yang mempunyai makna khusus agar dapat menjadi alat penerangan (pendidikan) fotografi : seni atau proses penghasilan gambar dengan cahaya pada film atau permukaan yang dipekakan layar : tirai, kelir (dipakai pada pertunjukan gambar hidup, drama, wayang kulit, dan sebagainya) layar lebar : layar yang lebih besar dari biasa (untuk pertunjukan film) layar perak : tirai tempat mempertunjukkan gambar hidup (di bioskop) dan menyanyi panorama : pemandangan alam yang bebas dan luas pantomim : pertunjukan sandiwara dan sebagainya tanpa kata-kata, hanya gerakgerik (biasanya diiringi musik) hidup sinetron : film, pertunjukan sandiwara (drama) dan sebagainya yang dibuat khusus untuk penayangan di media elektronika, seperti televisi syair : 1. puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat baris yang berakhir dengan bunyi yang sama; 2. sajak, puisi wayang golek : wayang yang dibuat dari kayu (berupa anak-anakan/boneka kayu) wayang klitik : wayang yang terbuat dari kayu wayang purwa : wayang kulit yang membawakan cerita-cerita yang bersumber dari kitab Mahabarata dan Ramayana.

Menuliskan kembali isi bacaan secara ringkas 1. Mencatat pokok-pokok informasi Pokok-pokok informasi adalah isi penting atau inti sari dari teks yang dibaca. Sebuah informasi, sebagaimana berita, baik yang termuat dalam buku, majalah, maupun surat kabar, pada dasarnya memuat unsur-unsur penting yang mencakup apa, siapa, di mana, kapan (bilamana), mengapa, dan bagaimana. Oleh karena itu, sasaran untuk mendapatkan pokok-pokok informasi adalah keenam unsur tersebut, baik sebagian maupun keseluruhan.

Artikel Peristiwa

2. Menuliskan kembali isi bacaan secara ringkas dalam beberapa kalimat Meringkas (precis) adalah cara untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat (ringkas). Inti dari meringkas adalah memotong atau memangkas bagian-bagian karangan yang dianggap hanya bersifat penjelasan, hiasan, atau tambahantambahan. Ringkasan dan ikhtisar memiliki perbedaan.

Artikel Peristiwa

Paragraf eksposisi

1. Mendaftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf ekspositif Salah satu bentuk karangan adalah eksposisi. Karangan atau paragraf eksposisi adalah karangan/paragraf yang bersifat memaparkan atau menjelaskan sesuatu dengan tujuan agar pembaca memahami atau mengerti tentang suatu informasi. Karangan atau paragraf yang bersifat eksposisi disebut ekspositoris. Termasuk dalam kategori eksposisi adalah berita dan laporan. Ciri-ciri eksposisi, antara lain a. bersifat nonfiksi atau ilmiah, b. bertujuan menjelaskan atau memaparkan, c. berdasarkan fakta, dan d. tidak bermaksud memengaruhi.

Paragraf atau alinea adalah kesatuan bahasa yang terdiri atas beberapa kalimat yang mengandung satu ide pokok atau pikiran utama dan beberapa pikiran penjelas (paragraf lengkap/sempurna). Ide pokok paragraf disebut juga gagasan pokok paragraf, pikiran utama paragraf, atau topik paragraf. Topik paragraf tersebut tersurat atau mungkin tersirat dalam kalimat utama. Paragraf eksposisi, argumentasi, dan persuasi memiliki kalimat utama. Kalimat utama adalah kalimat yang memuat ide pokok atau gagasan pokok. Kalimat-kalimat yang lain disebut kalimat penjelas yang memuat ide/gagasan penjelas atau ide/gagasan pendukung. Berdasarkan letak kalimat utamanya, paragraf dibedakan menjadi lima jenis. a. Paragraf deduktif: kalimat utama terletak di awal paragraf. b. Paragraf induktif: kalimat utama terletak di akhir paragraf. c. Paragraf deduktif-induktif: kalimat utama terletak di awal paragraf dan diulang pada akhir paragraf (dengan perubahan redaksi). d. Paragraf ineratif: kalimat utama di tengah. e. Paragraf naratif atau deskriptif: tidak mempunyai kalimat utama. Paragraf/karangan eksposisi dapat dikembangkan, antara lain, dengan pola: a. umum-khusus (deduksi), b. khusus-umum (induksi), c. proses, d. contoh, dan e. sebab-akibat atau akibat-sebab. Adapun topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf eksposisi, misalnya sebagai berikut. a. Industri rumah tangga berkembang pesat. b. Karyawan sehat dan terampil menjadi dambaan siapa pun. c. Perusahaan menjamin keselamatan kerja. d. Pembuatan kue bolu

2. Menyusun kerangka paragraf ekspositif a. Industri rumah tangga berkembang pesat 1) Industri kompor 2) Industri emping 3) Industri bedog/golok b. Karyawan sehat dan terampil menjadi dambaan siapa pun 1) Perlunya pendidikan awal 2) Kursus 3) Teori dan praktik 4) Ulet 5) Menjaga keseimbangan 6) Mengembangkan kreativitas c. Perusahaan menjamin keselamatan pekerja 1) Jam kerja 2) Istirahat 3) Mengenakan masker Penggunaan kata penghubung antarkalimat dalam paragraf a. untuk itu b. demikian juga c. selain itu d. setelah itu

3. Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi paragraf ekspositif dengan menggunakan kata penghubung yang tepat a. Pola pengembangan umum-khusus; khusus-umum Paragraf dengan pola pengembangan umum-khusus adalah memulai dari hal-hal yang bersifat umum kemudian menjelaskannya dengan kalimat-kalimat pendukung yang lebih khusus.

b. Pola pengembangan proses Paragraf dengan pola pengembangan eksposisi proses adalah sebuah bentuk paragraf dengan pengembangan ide pokok yang disusun berdasarkan urutan/proses terjadinya sesuatu, misalnya proses terjadinya tahu, tempe, pakaian (baju, celana, dan lain-lain); terwujudnya tenaga kerja yang sehat, tenaga kerja terampil, tenaga kerja yang sejahtera; dan lain-lain.

c. Paragraf dengan pola pengembangan eksposisi ilustrasi Pola pengembangan eksposisi ilustrasi adalah sebuah bentuk pengembangan ide pokok yang disusun berdasarkan gambaran adanya sesuatu hal. Biasanya disertai contoh bandingan atau gambar. Misalkan keadaan karyawan yang terjamin keselamatan dan kesehatannya, keadaan kesibukan karyawan, kesejahteraan karyawan, sistem perekrutan karyawan, dan lain-lain.

4. Mengidentifikasi kata berimbuhan dalam paragraf ekspositif a. Cermatilah contoh pengembangan paragraf tersebut! b. Identifikasikan kata-kata berimbuhan (awalan, sisipan, akhiran, gabungan imbuhan) pada paragraf tersebut! c. Pilihlah kata-kata berimbuhan tersebut menurut kelompoknya! d. Jelaskan fungsi dari arti imbuhan pada kata-kata yang telah Anda pilih! Sebagai panduan, perhatikan fungsi imbuhan memper-kan dan memper-i berikut! Menulis dan menggunakan imbuhan memper-kan dan memper-i 1) Fungsi imbuhan memper-kan dan memper-i adalah membentuk kata kerja aktif transitif. Contoh: a) Anak itu mempertunjukkan kebolehannya di depan teman-temannya. b) Parjoko memperbaiki radio yang rusak. 2) Penggunaan imbuhan memper-kan dan memper-i Imbuhan memper-kan dan memper-i tidak tepat bila digunakan atau digabungkan dengan kata sifat. Contoh: a) Tito sedang mempertinggikan letak bendera. (salah) b) Tito sedang mempertinggi letak bendera. (benar) c) Tito sedang meninggikan letak bendera. (benar) 3) Arti a) Memper-kan: melakukan perbuatan. Contoh: Ia mempertontonkan karyanya kepada teman sekelasnya. b) Memper-i: membuat jadi. Contoh: Tedi sedang memperbaiki sepedanya yang rusak.

5. Menyunting paragraf ekspositif yang ditulis teman Bukalah dan pahami buku EYD Anda. Hal ini dapat berguna untuk mengetahui penulisan maupun penggunaan yang berkaitan dengan bahasa.

Kemampuan Bersastra

Mengidentifikasi puisi lama 1. Pantun Pantun merupakan bentuk puisi lama asli Indonesia. Hampir setiap daerah di Indonesia (Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan sebagainya) memiliki pantun. Ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut. 1) Setiap bait terdiri atas empat baris. 2) Setiap baris terdiri 8–12 suku kata. 3) Berima akhir silang (a b a b). 4) Baris kesatu dan kedua sebagai sampiran atau perumpamaan, sedangkan baris ketiga dan keempat sebagai isi atau maksud. Menurut isinya, pantun dibedakan sebagai berikut. 1) Pantun anak-anak. 2) Pantun orang muda. 3) Pantun orang tua (nasihat, agama, adat). 4) Pantun jenaka. 5) Pantun teka-teki. 2. Syair Selain pantun, syair juga termasuk bentuk puisi lama. Syair mempunyai dua pengertian. Pertama, berarti sebuah bentuk puisi lama, kedua berarti sajak (puisi). Syair terdiri atas beberapa bait. Ciri-ciri syair adalah sebagai berikut. 1) Terdiri atas empat baris sebait. 2) Tiap baris terdiri atas 8–12 suku kata. 3) Semua baris merupakan isi. 4) Berima akhir lurus atau sama (a a a a). Menurut isinya, syair dibedakan sebagai berikut. 1) Syair dongeng atau angan-angan. 2) Syair kiasan atau sindiran. 3) Syair cerita atau hikayat. 4) Syair cerita kejadian. 5) Syair ajaran budi pekerti.

3. Membedakan bentuk pantun dan syair Perhatikan pantun berikut ini! a. Pantun jenaka Sungguh baik asam belimbing tumbuh dekat pohon mangga Sungguh elok beristri sumbing biar marah tertawa juga b. Pantun anak muda Jalan-jalan ke Pasar Batu beli cokelat rasanya manis Tak bosan melihat kasihku ayu meskipun dompet sudah menipis c. Pantun nasihat Rumah papan kayu jati kayu jati dari Amarta Indah tampan karena budi tinggi bangsa karena basa d. Pantun teka-teki Jika buntu jalan ke desa biarkan mawar tumbuh di kayu Jika tuan cerdik waskita bunga apa tak pernah layu Menurut bentuknya, pantun dibedakan sebagai berikut. a. Pantun biasa. b. Pantun berkait atau berantai atau seloka. c. Talibun. d. Pantun kilat (karmina). a. Pantun biasa Semua contoh pantun tersebut adalah pantun biasa. b. Pantun berkait Pantun bentuk ini tidak cukup dengan satu bait saja melainkan terdiri atas beberapa bait yang bersambung-sambung. Hubungan pantun tersebut sebagai berikut. Larik kedua dan keempat pada bait pertama dipakai kembali pada larik pertama dan ketiga bait kedua. Demikian seterusnya hubungan antara bait kedua dan ketiga, ketiga dan keempat, dan seterusnya. Contoh 1) Sarang garuda di pohon beringin, buah kemuning di dalam puan, Sepucuk surat dilayangkan angin, putih kuning sambutlah puan. 2) Buah kemuning di dalam puan, dibawa dari Wonogiri Putih kuning sambutlah Tuan, sambutlah dengan si tangan kiri. 3) Dibawa dari Wonogiri, palu-palu dalam perahu, Sambutlah dengan si tangan kiri, seorang makhluk janganlah tahu.

c. Talibun Talibun adalah pantun yang terdiri atas enam, delapan, atau sepuluh baris. Pembagian baitnya, yaitu separuh atas atau pertama sampiran dan separuh bawah atau kedua isi pantun itu. Contoh: Kalau anak pergi ke pekan, Yu beli belanak beli Ikan panjang beli dahulu. Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanak pun cari, Induk semang cari dahulu. d. Pantun kilat (karmina) Pantun ini disebut juga pantun dua seuntai. Pantun kilat atau karmina atau pantun dua seuntai adalah pantun yang hanya terdiri atas dua larik, yaitu larik pertama sebagai sampiran dan larik kedua isinya. Sebenarnya berasal dari empat larik, yang tiap larik bersuku kata empat atau lima, lalu kedua larik itu diucapkan seolah-olah sebuah kalimat. Contoh: Pisang kepok pisang berbiji, Anak mondok, diambil istri. Lalu dijadikan: Pisang kepok, pisang berbiji Anak mondok, diambil istri. Perhatikan contoh syair berikut! Syair-syair berikut termasuk syair modern. a. Yulia gadisku dari desa Baru besar beranjak dewasa Badan langsing raut jelita Lima belas tahun umurnya ada b. Kala muda sarat cita-cita Tambah usia tambah karya Lancar ilmu lancar derma Pintu surga kan terbuka.

 

Pelajaran Bahasa Indonesia Tentang Artikel Peristiwa | medsis | 4.5