Alasan dan Sebab Tentang Perilaku Menyimpang

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Alasan dan Sebab Tentang Perilaku Menyimpang

Alasan dan Sebab Tentang Perilaku Menyimpang

Alasan dan Sebab Tentang Perilaku Menyimpang

3) Perilaku Menyimpang Karena Hubungan Diferensiasi Penyimpangan terjadi karena harus mempelajari terlebih dahulu bagaimana caranya menjadi seorang yang menyimpang. Proses belajar ini terjadi akibat interaksi sosial antara seseorang dan orang lain. Derajat interaksi bergantung pada frekuensi, prioritas, dan intensitasnya. Semakin tinggi derajat keempat faktor ini, akan semakin tinggi pula kemungkinan bagi mereka untuk menerapkan tingkah laku yang sama-sama dianggap menyimpang. Contohnya, seseorang yang ingin berprofesi sebagai perampok karena terdesak kebutuhan hidup dan ingin cepat kaya dengan cara yang singkat dan tidak wajar, kemudian ia berusaha mempelajari cara-cara merampok dari teman-temannya yang lebih dahulu menjadi perampok. Setelah mengetahui cara-caranya, ia akan menjadi perampok mengikuti teman-temannya.

4) Perilaku Menyimpang Karena Pemberian Julukan (Labelling) Perilaku menyimpang lahir karena adanya cap, julukan, atau sebutan atas suatu perbuatan yang disebut menyimpang. Dengan memberikan julukan pada suatu perilaku sebagai perilaku menyimpang, berarti kita menciptakan serangkaian perilaku yang cenderung mendorong orang untuk melakukan penyimpangan. Jadi, jika kita memberi cap terhadap seseorang sebagai orang yang menyimpang, julukan tersebut akan mendorong orang tersebut berperilaku menyimpang.

Teori ini menggambarkan bagaimana suatu perilaku menyimpang seringkali menimbulkan serangkaian peristiwa yang justru mempertegas dan meningkatkan tindakan penyimpangan. Pada kenyataannya dalam keadaan tertentu pemberian julukan mendorong timbulnya penyimpangan berikutnya. Dalam keadaan tertentu lainnya, pemberian julukan akan mendorong kembalinya orang yang menyimpang ke perilaku yang normal. Contohnya, seorang siswa yang tertangkap basah menyontek ketika ujian, kemudian semua siswa di kelas itu memberi julukan pada dirinya “si tukang nyontek”, padahal ia baru sekali melakukan perbuatan itu. Oleh karena sudah diberi julukan demikian, siswa tersebut akan mempunyai kecenderungan melakukan perilaku itu terusmenerus karena sebagian besar siswa sudah berpandangan negatif terhadap dirinya.

b. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Biologi Sebagian besar ilmuwan abad ke-19 berpandangan bahwa kebanyakan perilaku menyimpang disebabkan oleh faktor-faktor biologis, seperti tipe sel-sel tubuh. Salah satunya adalah pandangan dari seorang ahli bernama Caesare Lombroso. Ia berpendapat bahwa orang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi yang panjang, adanya kelainan pada mata yang khas, jari-jari kaki dan tangan relatif besar, serta susunan gigi yang tidak normal. Adanya pandangan dari sudut biologi ini telah menimbulkan keraguan dari para ahli ilmu sosial. Meskipun ditunjang oleh berbagai bukti empiris, para kritikus menemukan sejumlah kesalahan metode penelitian sehingga menimbulkan keraguan terhadap kebenaran teori tersebut. Para ilmuwan lainnya menganggap faktor biologis sebagai faktor yang secara relatif tidak penting pengaruhnya terhadap penyimpangan perilaku.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

c. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Psikologi Teori ini berpandangan bahwa penyakit mental dan gangguan kepribadian berkaitan erat dengan beberapa bentuk perilaku menyimpang karena perilaku menyimpang seringkali dianggap sebagai suatu gejala penyakit mental. Namun, teori psikologis tidak dapat memberikan banyak bantuan untuk menjelaskan penyebab perilaku menyimpang. Ilmuwan yang terkenal di bidang ini ialah Sigmund Freud. Dia membagi diri manusia menjadi tiga bagian penting sebagai berikut. 1) Id, bagian diri yang bersifat tidak sadar, naluriah dan impulsif (mudah terpengaruh oleh gerak hati). 2) Ego, bagian diri yang bersifat sadar dan rasional (penjaga pintu kepribadian). 3) Superego, bagian diri yang telah menyerap nilai-nilai kultural dan berfungsi sebagai suara hati. Menurut Freud, perilaku menyimpang terjadi apabila id yang berlebihan (tidak terkontrol) muncul bersamaan dengan superego yang tidak aktif, sementara dalam waktu yang sama ego yang seharusnya dominan, tidak berhasil memberikan perimbangan.

d. Sebab Terjadinya Perilaku Menyimpang dari Sudut Pandang Kriminologi Dalam hal ini perilaku menyimpang dapat dilihat dari Teori Konflik dan Teori Pengendalian. Dalam teori ini terdapat dua macam konflik, yaitu sebagai berikut. 1) Konflik budaya terjadi apabila dalam suatu masyarakat terdapat sejumlah kebudayaan khusus yang masing-masing cenderung tertutup sehingga mengurangi kemungkinan timbulnya kesepakatan nilai. Setiap kelompok menjadikan norma budayanya sebagai peraturan resmi. Akibatnya, orang yang menganut budaya berbeda dianggap sebagai penyimpang. Berbagai norma yang saling bertentangan yang bersumber dari kebudayaan khusus yang berbeda itu akan menciptakan kondisi anomi. Pada masyarakat seperti ini, kelas rendah harus bertentangan (berkonflik) dengan kelas menengah hanya karena mereka dipaksa meninggalkan kebudayaan yang telah mereka anut sebelumnya. 2) Konflik kelas sosial terjadi akibat suatu kelompok menciptakan peraturan sendiri untuk melindungi kepentingannya. Pada kondisi ini terjadi eksploitasi kelas atas terhadap kelas bawah. Mereka yang menentang hak-hak istimewa kelas atas dianggap mem punyai perilaku menyimpang sehingga dicap sebagai penjahat.

Dilihat dari teori pengendalian, kebanyakan orang menyesuai kan diri dengan nilai dominan karena adanya pengen dalian dari dalam ataupun dari luar. Pengendalian dari dalam berupa norma yang dihayati dan nilai yang dipelajari seseorang. Pengendalian dari luar berupaya imbalan sosial terhadap konformitas (tindakan mengikuti warna) dan sanksi hukuman terhadap tindakan penyimpangan. Dalam masyarakat konvensional, terdapat empat hal yang mengikat individu terhadap norma masya rakatnya, yaitu: 1) kepercayaan, mengacu pada norma yang dihayati; 2) ketanggapan, yakni sikap tanggap seseorang terhadap pendapat orang lain, berupa sejauh mana kepekaan seseorang terhadap kadar penerimaan orang konformis; 3) keterikatan (komitmen), berhubungan dengan berapa banyak imbalan yang diterima seseorang atas perilakunya yang konformis; 4) keterlibatan, mengacu pada kegiatan seseorang dalam berbagai lembaga masyarakat, seperti Majelis Ta’lim, sekolah, dan organisasi-organisasi setempat. Semakin tinggi tingkat kesadaran seseorang akan salah satu pengikat tersebut, semakin kecil pula kemungkinan baginya untuk melakukan penyimpangan.

4. Perilaku dan Subkebudayaan Menyimpang Pergaulan yang dilakukan seseorang yang sedang tumbuh dewasa umumnya tidak lepas dari peniruan (imitasi) terhadap orang lain yang dijadikan idolanya. Akan tetapi, peniruan ini kadangkala bersifat negatif. Hal yang ditiru adalah budaya Barat, seperti dari Eropa atau Amerika yang dianggapnya mewakili dunia modern. Hal ini disebut westernisasi. Berperilaku seperti mereka akan merasa dirinya modern. Padahal tidak demikian karena yang ditiru mereka bukan ilmu pengetahuan atau keterampilan, melainkan pola, sikap, perilaku, kebiasaan dan lain-lain yang biasa dilihat dari televisi, film di bioskop atau gaya kelompok pemain musik yang menjadi panutannya. Westernisasi di dalamnya terdapat kata west yang berarti ‘barat’, bukan berarti mengambil kebudayaan dari Barat berupa ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa berperilaku seperti orang Barat, melainkan berperilaku dan bertindak seperti orang Barat yang dianggapnya modern dengan melupakan budaya sendiri. Westernisasi berarti peniruan seperti orang Barat, misalnya: a. meniru secara berlebihan gaya pakaian (mode) yang selalu mengalami perubahan dengan cepat; b. meniru gaya bicara dan adat sopan santun pergaulan Barat; c. sikap merendahkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dengan mencampur adukan istilah dan ungkapan orang Barat ke dalam bahasa Indonesia walaupun lawan yang diajak bicara tidak memahaminya. Begitu pula dalam menegur orang lain yang ditemuinya, seperti hallo, okey, Dad, atau bye; d. meniru pesta-pesta yang dilakukan orang Barat, seperti pesta ulang tahun, pesta malam tahun baru yang disertai dengan minum-minuman keras; e. tidak melewatkan pergi ke disko untuk setiap saat di malam minggu atau malam liburan; f. wanita yang bertemu teman dekat lelakinya yang telah lama tidak jumpa melakukan cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Usaha mengadopsi gaya hidup kebarat-baratan seperti itulah yang disebut westernisasi.

Inilah yang bisa kami sampaikan tentang pelajaran sosiologi dengan materi pembahasan alasan atau sebab perialaku menyimpang, semoga bermanfaat terima kasih jangan lupa share dan kunjungi yang lainnya .

Alasan dan Sebab Tentang Perilaku Menyimpang | medsis | 4.5