2. Dakwah secara Terang-terangan (al-Da’wah bi al-Jahr)

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Dakwah secara terang-terangan (al-Da’wah bi al-Jahr) dimulai ketika
Rasulullah saw. menyeru kepada orang-orang Mekah. Ia berdiri di atas
sebuah bukit dan berteriak dengan suara lantang memanggil mereka.
Beberapa keluarga Quraisy menyambut seruannya. Kemudian, ia berpaling
kepada sekumpulan orang sambil berkata, “Wahai orang-orang! Akankah
kalian percaya jika saya katakan bahwa musuh Anda sekalian telah bersiaga
di sebelah bukit (Śafa) ini dan berniat menyerang nyawa dan harta kalian?”
Mereka menjawab, “Kami tak mendengar Anda berbohong sepanjang
hayat kami.” Ia lalu berkata, “Wahai bangsa Qurasy! Selamatkanlah dirimu
dari neraka. Saya tak dapat menolong Anda di hadapan Allah Swt. Saya
peringatkan Anda sekalian akan siksaan yang pedih!” Ia menambahkan,
“Kedudukan saya seperti penjaga, yang mengamati musuh dari jauh dan 105250_1ilustrasiistimewa
segera berlari kepada kaumnya untuk menyelamatkan dan memperingatkan
mereka tentang bahaya yang akan datang.”
Seriring dengan itu, turun pula wahyu Allah Swt. agar Rasulullah saw.
melakukannya secara terang-terangan dan terbuka. Mengenai hal tersebut,
Allah Swt. berfirman, yang artinya: “Maka sampaikanlah (Muhammad)
secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan
berpalinglah dari orang yang musyrik.” (Q.S. al-¦ijr/15:94). Baca pula
firman Allah dalam Q.S. asy-Syua’ara/26:214-216.
Berdasarkan ayat-ayat di atas, Rasulullah saw. yakin bahwa sudah
saatnya ia dan para pengikutnya untuk menyebarluaskan ajaran Islam secara
terbuka dan terang-terangan. Dengan dukungan istrinya Siti Khadijah,
paman yang setia membelanya, yaitu Abu °alib, serta para sahabat dan
pengikutnya yang setia ditambah pula dengan keyakinan bahwa Allah
Swt. senantiasa menyertai, dimulailah dakwah suci ini. Pertama-tama
dakwah dilakukan kepada sanak keluarga, kemudian kepada kaumnya, dan
penduduk Kota Mekah yang saat itu penyembahan berhala begitu kuat. Dari kalangan keluarga, ia mengajak paman-pamannya termasuk
Abu Lahab dan Abu Jahal yang terkenal sangat menentang dakwah
Rasul. Mereka menolak mentah-mentah ajakan Rasulullah saw. seraya
mengatakan bahwa agama merekalah yang paling benar. Penolakan yang
disertai ejekan, cemoohan, hinaan bahkan ancaman tersebut tidak lantas
membuat Rasulullah saw. berputus asa dan berhenti melakukan dakwah.
Justru beliau makin tertantang untuk terus mengajak masyarakat memeluk
agama tau¥i«.
Melihat kenyataan tersebut, Abu Lahab, Abu Sufyan, dan kalangan
bangsawan serta pemuka Quraisy lainnya, meminta para penyairpenyair
Quraisy untuk mengolok-olok dan mengejek Nabi Muhammad
saw. Selain itu, mereka juga menuntut Muhammad untuk menampilkan
mukjizatnya seperti apa yang telah ditampilkan oleh Musa as. dan Isa
as. Seperti menjadikan bukit Śafa dan Marwah berubah menjadi bukit
emas, menghidupkan orang yang sudah mati, menghalau bukit-bukit yang
mengelilingi Mekah, memancarkan mata air yang lebih baik dari zam.
zam. Tidak sampai di situ, bahkan mereka mengolok-olok Nabi dengan
menyatakan mengapa Allah Swt. tidak menurunkan wahyu tentang harga
barang-barang dagangan agar mereka dapat berspekulasi.
Semua cemoohan, ejekan, dan ancaman yang ditujukan kepada
Rasulullah saw. dan para pengikutnya makin melecut semangat Rasulullah
saw. dengan terus bertambahnya jumlah pengikutnya. Pelan tapi pasti,
pengaruh Rasulullah saw. dan ajaran Islam semakin diterima oleh
masyarakat Mekah yang telah muak dengan praktik-praktik kotor jahiliah.
Kenyataan ini mendorong para pemuka Quraisy datang kembali kepada
Abu °alib, paman yang selalu membela Rasul. Mereka membawa seorang
pemuda yang gagah yang bernama Umarah bin al-Walid bin al-Mugirah
untuk ditukarkan dengan Nabi Muhammad saw. yang ditolak oleh Abu
°alib. Nabi Muhammad saw. terus saja berdakwah. Untuk yang ketiga kalinya, para pembesar Quraisy datang kepada Abu
°alib. Mereka berkata, “Wahai Abu °alib, Anda orang yang terhormat
dan terpandang di kalangan kami. Kami telah meminta Anda untuk
menghentikan kemenakanmu, tetapi Anda tidak juga memenuhi tuntutan
kami! Kami tidak akan tinggal diam menghadapi orang yang memaki nenek
moyang kami, tidak menghormati harapan-harapan kami, dan mencacimaki
berhala-berhala kami. Sebaiknya, Anda sendirilah yang menghentikan
kemenakan Anda, atau jika tidak, kami akan lawan hingga salah satu pihak
binasa”.
Sejak saat itu, orang-orang Quraisy mencaci-maki dan menyiksa kaum
muslimin tidak terkecuali Nabi sendiri. Peristiwa yang paling terkenal
adalah penyiksaan Bilal (seorang budak dari Abisinia). Ia dipaksa untuk melepaskan agama, dicambuk, dicampakkan di padang pasir, dan dadanya
ditindih dengan batu yang lebih besar dari badannya. Dalam siksaan
semacam itu, Bilal tetap teguh dengan keyakinannya; mulutnya terus
mengucapkan Ahad, Ahad, … (Allah Maha Esa, Allah Maha Esa). Bilal terus
menerus mengalami siksaan hingga ia dibeli oleh Abu Bakar Siddik. Sebagai
orang kaya, Abu Bakar banyak sekali memerdekakan budak di antaranya
adalah budak perempuan Umar bin Kha¯¯ab.
Meskipun Nabi Muhammad saw. telah mendapat perlindungan dari
Banu Hasyim dan Banu Mu¯alib, ia masih juga mengalami penyiksaan.
Ummu Jamil, istri Abu Lahab, melemparkan najis ke depan rumahnya.
Demikian juga Abu Jahal yang melemparkan isi perut kambing kepada Nabi
Muhammad saw. ketika ia sedang śalat. Intimidasi dan penyiksaan yang
dialami oleh Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya berlangsung
dalam kurun waktu yang cukup lama. Kian hari kian keji siksaan yang mereka
terima. Namun demikian, Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya
tetap tabah dan terus memelihara dan meningkatkan keyakinan dan
keimanan mereka.
Demikianlah, setiap hari jumlah pengikut Nabi Muhammad saw. terus
bertambah. Kenyataan ini menyesakkan dada kaum Quraisy. Oleh karena
itu, mereka mengutus Utbah bin Rabi’ah untuk bertemu dengan Nabi
Muhammad saw. Dalam pertemuannya dengan Nabi Muhammad saw.
ia mengatakan, “Wahai anakku, dari segi keturunan engkau mempunyai
tempat (bermartabat) di kalangan kami. Kini engkau membawa perkara
besar yang menyebabkan kaum Quraisy terpecah belah. Kini dengarkanlah,
kami akan menawarkan beberapa hal. Kalau engkau menginginkan harta,
kami siap mengumpulkan harta kami sehingga engkau menjadi yang
terkaya di antara kami. Jika engkau menginginkan pangkat atau jabatan,
kami akan angkat engkau menjadi pemimpin kami; kami tak akan memutus
satu perkara tanpa persetujuanmu. Kalau kedudukan raja yang engkau
cari, kami akan nobatkan engkau menjadi raja. Jika engkau mengidap
penyakit syaraf yang tidak dapat engkau sembuhkan, akan kami usahakan penyembuhannya dengan biaya yang kami tanggung sendiri hingga engkau
sembuh”. Mendengar tawaran itu, Nabi Muhammad saw. membacakan
surat al-Sajdah kepada Utbah. Ia terdiam dan tertegun serta insaf bahwa
ia berhadapan dengan seorang yang tidak gila harta, tidak berambisi pada
kekuasaan, dan bukan pula orang yang gila.
Utbah kembali kepada Quraisy dan menceritakan pengalamannya ketika
bertemu dengan Nabi Muhammad saw. serta menyarankan agar mereka
membiarkan Nabi Muhammad saw. berhubungan secara bebas dengan
semua orang Arab. Usul Utbah tentu tidak dapat mereka terima, sebab
mereka belum merasa puas jika belum mengalahkan Nabi Muhammad
saw. Karena itu, mereka meningkatkan penyiksaan baik kepada Nabi
Muhammad saw. maupun kepada para pengikutnya. Dengan semangat kerasulannya serta keyakinan akan kebenaran
ajaran Ilahi, gerakan dakwah Rasulullah saw. makin tersebar luas.
Teman, sahabat, bahkan orang yang tidak dikenalnya, baik dari kalangan
bangsawan terhormat maupun dari golongan hamba sahaya banyak yang
mendengar dan memahami ajaran Islam, kemudian memeluk agama Islam
dan beriman kepada Allah Swt. Rasulullah saw. makin tegas, lantang dan
berani, tetapi tetap komitmen terhadap tugas, fungsi dan wewenangnya
sebagai rasul utusan Allah Swt

2. Dakwah secara Terang-terangan (al-Da’wah bi al-Jahr) | medsis | 4.5